us

us

we are happy family
liburan tahun ini, saya bahagia sekali karna bisa liburan bareng sepupu-sepupu tercinta
karna kesibukan masing-masing membuat kita jarang bertemu dan dikesempatan kali ini, kami bisa menghabiskan waktu bersama berlibur melihat eksotisnya laut Indonesia

Iklan

Little FILSAFAT ILMU

  •  Untuk mengetahui sejak kapan munculnya ilmu pengetahuan
  • Agar mampu berpikir sistematis, kritis untuk memperoleh kebenaran.

filsafat

Ayo belajar FILSAFAT kawaaan ~

1.Dari sisi kebahasaan
  • Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia. Philo=cinta Sophia= kebijaksanaan/kebenaran. Jadi philosophia adalah orang yang mencintai kebenaran, sehingga berupaya memperoleh dan memilikinya.
  • Kata philosophia ditransformasikan ke berbagai bahasa. Dalam bahsa arab disebut falsafah. Dalam bahsa Indonesia disebut falsafat/filsafat. Dalam bahsa Belanda dan Jerman disebut Philosophie.

2.Dari sisi filsafat sebagai ilmu

  • Plato, fisuf besar Yunani mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berusaha mencapai kebenaran yang asli, karena kebenaran mutlak di tangan Tuhan. Atau dengan singkat dikatakan pengetahuan tentang segala yang ada.
  • Aristoteles, murid Plato mengatakan, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu matafisika, logika, retorika, politik, sosial budaya dan estetika.
  • Alfarabi, Filsuf besar muslim dengan gelar Aristoteles ke 2, mengatakan Filsafat adalah pengetahuann tentang yang ada menurut hakikatnya yang sebenarnya.
  • Immanuel Kant, Filsuf barat dengan gelar raksasa pemikir Eropa, mengatakan filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan:
  1. apa dapat kita ketahui, dijawab oleh metafisika
  2. apa yang boleh kita kerjakan, dijawab oleh etika
  3. apa yang dinamakan manusia, dijawab oleh antropologi.
  4. sampai dimana harapan kita, dijawab oleh agama.
  • Hasbullah Bakry,  filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat melahirkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dicapai manusia.

3. Filsafat dari sisi benda

  • Titus dkk, mengajukan dua pengertian filsafat.

– filsafat adalah sekumpulan problem-   problem yang langsung dan mendapat perhatian dari manusia yang dicarikan jawabannya oleh ahli filsafat.

– filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhapadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis.

4. Filsafat sebagai suatu aktifitas
  • Filsafat adalah sebagai suatu proses berpikir untuk memperoleh jawaban-jawaban dari berbagai problem.
  • Titus dkk, memberikan 3 pengertian filsafat sbg aktifitas:

– Filsafat adlah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan diri dari sikap yang sangat kita junjung tinggi.

-Filsafat adalah sebagai analisi logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep.

-Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh gambaran keseluruhan
BERDASARKAN KONSEP DAN TEORI TERSEBUT PROSES BERFILSAFAT TERSEBUT MELALUI EMPAT TAHAP
1.LOGIS, yaitu berpikir dengan menggunakan logika (undang-undang berpikir) yaitu melalui tiga tahap; pemahaman, keputusan dan argumentasi

contoh:

-Alam berubah-ubah (premis minor)
-Setiap berubah-ubah baru (premis mayor)
-Alam baru (simpulan)

2. SISTEMATIS, yaitu berpikir melalui alur yang sistemik sehingga ditemukan adanya koheren (saling runtut), diantara satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya.

3. RADIKAL, berpikir sampai kepada akar masalah.

4. UNIVERSAL, berpikir secara umum bukan khusus. Disini perbedaannya ilmu berpikir secara khusus, filsafat berpikir secara umum.

Manajemen Organisasi Kepemimpinan

Gambar

Definisi Kepemimpinan

  • Kepemimpinanadalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk  mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
  • Kepemimpinanadalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).
  • Kepemimpinanadalahsuatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
  • Kepemimpinanadalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
  •  Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain/kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
  • Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).
  • Pemimpin adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk memimpin atau mempengaruhi orang lain.

Inti Kepemimpinan

Ide pemimimpin untuk membuat keputusan, pengambilan keputusan harus : cepat, tepat dan besar

Teori Lahirnya Kepemimpinan

Genetik           :  Pemimpin yang dilahirkan (leader are bom)

Sosial               :  Pemimpin itu dibuat (leader are made)

Ekologis          : Seorang bias muncul sebagai pimpinan bila ia mempunyai bakat pimpinan dan bakat dapat dikembangkan dengan baik (leader are bom and made)

Fungsi kepemimpinan

Fungsi kepemimpinan adalah menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya tujuan. Agar dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Disamping itu, pemimpin harus memiliki pikiran, tenaga dan kepribadian yang dapat menimbulkan kegiatan dalam hubungan antar manusia Fungsi kepemimpinan adalah menggerakkan orang yang dipimpin menuju tercapainya tujuan. Agar dapat menanamkan kepercayaan pada orang yang dipimpinnya dan menyadarkan bahwa mereka mampu berbuat sesuatu dengan baik. Disamping itu, pemimpin harus memiliki pikiran, tenaga dan kepribadian yang dapat menimbulkan kegiatan dalam hubungan antar manusia

  • Sebagai pengambil keputusan
  • Sebagai sumber informasi
  • Menciptakan inspirasi
  • Menciptakan keadilan
  • Sebagai katalisator
  • Sebagai wakil organisasi
  • Menyelsaikan konflik
  • Memberi sugesti (saran, anjuran dan pengaruh) pada anak buah.

Sifat Kepemimpinan

Sifat kepemiminan adalah ciri, watak, perangai yang dimiliki seorang pimpinan lebih dari orang lain.

Taqwa, Harga diri, Jujur, Kemampuan kuat, Ahli, Tekun, Tangguh, Ulet, disiplin, Efektif, Berani, Tak lekas puas,, Percaya diri, Berinisiatif, Teliti dan Rasional, Komunikatif, Bersifat kuat, dll.

Gaya kepemimpinan

Adalah prilaku yang digunakan pada saat seseorang memimpin untuk mempengaruhi orang lain.

Macam- macamnya:

  • Demokratis : Gaya atau cara memimpin yang demokratis, si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya.
  • Otokrartis gaya kepemimpinan berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh. Dengan kata lain, sang pemimpin yang dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Artinya segala ketentuan dan keputusan berada di tangan si pemimpin.
  • Ø  Kepemimpinan Bebas.

Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Dalam prakteknya, Si pemimpin hanya menyerahkan dan menyediakan instrumen dan sumber-sumber yang diperlukan oleh anak buahnya untuk melaksanakan suatu pekerjaan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pimpinan. Pimpinan yang memiliki gaya ini memang berada diantara anak buahnya, akan tetapi ia tidak memberikan motivasi

Gaya atau perilaku kepemimpinan yang termasuk dalam tipe kepemimpinan bebas ini antara lain.

  1. Kepemimpinan Agitator

Tipe kepemimpinan ini diwarnai dengan kegiatan pemimpin dalam bentuk tekanan, adu domba, memperuncing perselisihan, menimbulkan dan memperbesar perpecahan/pertentangan dan lain-lain dengan maksud untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Agitasi yang dilakukan terhadap orang luar atau organisasi lain, adalah untuk mendapatkan keuntungan bagi organisasinya dan bahkan untuk kepentingan pemimpin sendiri

          2.      Kepemimpinan Simbol

Tipe kepemimpinan ini menempatkan seorang pemimpin sekedar sebagai lambang atau simbol, tanpa menjalankan kegiatan kepemimpinan yang sebenarnya.

Di samping gaya kepemimpinan demokratis, otokrasi maupun bebas maka pada kenyataannya sulit untuk dibantah bila dikatakan terdapat beberapa gaya atau perilaku kepemimpinan yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu tipe kepemimpinan tersebut. Sehubungan dengan itu sekurang kurangnya terdapat lima gaya atau perilaku kepemimpinan seperti itu. Kelima gaya atau perilaku kepemimpinan itu adalah

  • Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Ahli (Expert)
  • Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Kharismatik
  • Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Paternalistik
  • Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Pengayom
  • Gaya atau Perilaku Kepemimpinan Tranformasional

Aktualisasi gaya kepemimpinan

  • Instruktif
  • Konsultatif
  • Partisipatif
  • Delegatif

Strategi Aplikasi Kepemimpinan

  • Pembuatan keputusan
    • Melandasi setiap kebijaksanaan dengan menerapkan kemampuan intelektual
    • Membangun konsep yang jelas
    • Komunikasi mengunkan pendekatan persuasi
    • Menerapkan gaya yang tepat pada masalah yang sesuai kondisi anggota
    • Mengembangkan sifat kepemimpinan
    • Menjadikan konflik sebagai dinamisator
    • Menjadikan motivasi sebagai tombak
    • Manajemen stress
    • Membudayakan pendekatan publik relation pada setiap anggota

Kepemimpinan dalam  Islam

Islam beranggapan bahwa kepemimpinan adalah satu hal yang mutlak dalam kehidupan. Di dalam kehidupan rumah tangga perlu kepala, sholat berjamaah perlu imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim perlu pemimpin perjalanan. Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Artinya ia menjadi orang terdepan dalam memberi contoh sekaligus juga pemberi motivasi dan pendorong dari belakang barisan.

Semua orang adalah pemimpin. Meski hanyak satu saja pengikutnya, maka dia masih bisa dikatakan sebagai seorang pemimpin. Bahkan manusia seorang diripun harus memimpin dirinya sendiri untuk mengarahkan hidupnya. Ketidak sadaran ini lah yang mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan ilmu kepemimpinannya, ditambah dengan jargon-jargon seperti”saya ini rakyat kecil”, padahal dia adalah seorang tukang becak hebat yang memimpin keluarganya dirumah, yang bisa menciptakan anak-anaknya menjadi pemimpin-pemimpin besar. Tidak ada istilah orang kecil semua sama dimata Tuhan, sebagai seorang khalifah dimuka bumi ini, hal ini ditegaskan oleh Allah Swt sebagai berikut

Dan tatkala tuhan mu berfirman kepada malaikat ,”aku hendak jadikan khalifah dimuka bumi..” (Q.S 2. Al Baqrah (sapi betina) Ayat 30)

Hakikat kepemimpinan dalam Islam adalah Tanggung Jawab, Bukan Keistimewaan. Ketika seseorang diangkat atau ditunjuk untuk memimpin suatu lembaga atau institusi, maka ia harus mampu mempertanggungjawabkannya kepada manusia dan Allah Swt. Karena kepemimpinan itu tanggung jawab atau amanah yang tidak boleh disalahgunakan, maka pertanggungjawaban menjadi suatu kepastian, Rasulullah Saw bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kamu (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadi pemimpin atau pejabat bukanlah untuk menikmati kemewahan atau kesenangan hidup dengan berbagai fasilitas duniawi yang menyenangkan, tapi justru ia harus mau berkorban dan menunjukkan pengorbanan, apalagi ketika masyarakat yang dipimpinnya berada dalam kondisi sulit dan sangat sulit. Para pemimpin dituntut bekerja keras dengan penuh kesungguhan dan optimisme. Pemimpin adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, karena itu menjadi pemimpin atau pejabat berarti mendapatkan kewenangan yang besar untuk bisa melayani masyarakat dengan pelayanan yang lebih baik dari pemimpin sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka (HR. Abu Na’im).

Tingkat keberhasilan seorang sangat ditentukan pada seberapa tinggi kepemimpinanya. Tingkat kepemimpinan juga menentukan seberapa besar tingkat kepemimpinannya. Tingkat kepemimpinan seseorang jugamenentukan seberapa besar dan seberapa jauh tingkat pengaruhnya. Begitu banyak pemimpin-pemimpin populer kaliber dunia yang dilahirkan dimuka bumi ini, tetapi pengaruhnya hanyak beberapa waktu saja. Tetapi pemimpin-pemimpin besar yang diturunkan Allah Swt tidak lekang di telan zaman, bahkan semakin kuat pengaruhnya, meskipun mereka sudah tidak ada di bumi ini. Itulah yang disebut pemimpin abadi umumnya cara kepemimpinan sangat sesuai denga hati nurani dan bisa diterima akal sehat dan logika, itulah yang menyebakan keabadian pengaruh nabi dan rasul.

Banyak kegagalan pemimpin disebabkan karena pemimpin tidak mempunyai lima tangga kepemimpinan yaitu meliputi ;

–          Pemimpin yang dicintai

–          Pemimpin yang dipercaya

–          Pembimbing

–          Pemimpin yang berkeperibadian

–          Pemimpin yang abadi

diharapkan di kelima tangga kepemimpinan ini, maka semua masalah dapat di antisipasi, sehingga menghasilkan seorang pemimpin yang tak hanyak dicintai, dipercaya atau diikuti lebih juga membimbing sesuai dengan suara hati dia juga mempunyai pengaruh yang kuat sepanjang zaman.

Sesungguhnya, pada diri rosulallah kamu dapatkan suri toladan yang indah bagi orang yang mengharap (rahmat ALLAH) dan (keselamatan) hari akhir, serta banyak mengingat allah (Q.S 33 Al Ahzab) Ayat 21

Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam setelah Rasulullah SAW wafat dipimpin oleh Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Bani Abbas. Setelah dinasti Abbasyiah kepemimpinan Islam terpecah pecah ke dalam kesultan-kesultanan kecil.

Organisasi

Adalah susunan atau aturan dari berbagai organ dan sebagainya sehingga merupakan satu kesatuan yang teratur.

Kenyataan dasar yang umum terdapat pada setiap organisasi itu adalah :

–          Bahwa organisasi itu senantiasa mencakup orang-orang.

–          Orang-orang itu melibatkan diri satu sama lain; Mereka berintraksi secara intensif atau sekedarnya.

–          Intraksi itu selalu dapat disusun atau digambarkan dalam sebuah struktur.

–          Setiap orang dalam organisasi mempunyai tujuan perseorangan. Sebagian dari padanya merupakan alasan tindakannya. Dengan turut serta dalam organisasi tersebut akan membantu mencapai tujuannya.

–          Intraksi tersebut dapat membantu mencapai tujuan bersama yang harmonis, mungkin berbeda, tetapi berhubungan dengan tujuan perseorangan mereka.

Jadi organisasi merupakan proses yang berstruktur, tempat orang berintraksi untuk mencapai tujuan.

Struktur organisasi

Melukiskan intraksi, kegiatan, peranan, hubungan, herarki tujuan dan sifat-sifat. Peranan struktur pada setiap jenis organisasi itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat dan kualitasnya.

Bentuk-Bentuk Organisasi

Yaitu meliputi :

  1. Organisasi Mahasiswa.
  2. Organisasi Kader.
  3. Organisasi Massa.
  4. Organisasi Politik.
  5. Organisasi Perusahaan.
  6. Organisasi Masyarakat.

Organisasi HMI (Organisasi Pengkaderan;Fungsi HMI Bab IV Pasal 8 AD)

Tebinanya Insan Akademis Pencipta, Pengabdi yang bernapaskan Islam dan dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah Swt. (tujuan HMI; Bab III pasal 4 AD)

Kualitas INSAN CITA ; Insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil dan ahli dalam bidangnya. Idealnya tebentuk insan pembaharu, insan yang berkpribadian imbang padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Swt. Dari kelima kualitas tersebut Pada dasarnya harus dipahami dalam tiga kualitas, kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi.

Manajemen

Manajemen adalah proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan planing, acunting, dan controlling dimana pada masing-masing bidang digunakan ilmu pengetahuan maupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka usaha mencapai sasaran yang telah ditetapkan semula.

Manajemen adalah sebagai proses merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, mengedalikan usaha-usaha anggota organisasi, dan proses pengunaan sumeber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Sumber daya manusia dan sumber daya lain tersebut sebagai unsur manajemen. Unsur manajemen tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut :

  • Manusia (man)
  • Bahan (material)
  • Mesin/peralatan (machine)
  • Metode/cara kerja (metods)
  • Modal uang (money)

Aspek-Aspek Manajemen Meliputi

  • Perencanaan
  • Pengorganisasian
  • Penyusunan
  • Pengarahan
  • Pengontrolan

Model-Model Manajemen

  • Manajemen konvensional : Berdasarkan pengalaman pribadi.
  • Manajemen sistimatis : Berdasarkan pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain.
  • Manajemen berdasarkan ilmu pengetahuan : Berupa pemeriksaan dan analisa yang logis.

A. Manajemen Konflik & Cara Mengelola Konflik secara Efektif

Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok, konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya.

Dari pandangan baru dapat kita lihat bahwa pimpinan atau manajer tidak hanya wajib menekan dan memecahkan konflik yang terjadi, tetapi juga wajib untuk mengelola/memanaj konflik sehingga aspek-aspek yang membahayakan dapat dihindari dan ditekan seminimal mungkin, dan aspek-aspek yang menguntungkan dikembangkan semaksimal mungkin.

Penyebab Konflik

Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

A. Faktor Manusia

1. Ditimbulkan oleh atasan, terutama karena gaya kepemimpinannya.

2. Personil yang mempertahankan peraturan-peraturan secara kaku.

3.Timbul karena ciri-ciri kepribadian individual, antara lain sikap egoistis, temperamental, sikap fanatik, dan sikap otoriter.

B. Faktor Organisasi

1. Persaingan dalam menggunakan sumberdaya.

Apabila sumberdaya baik berupa uang, material, atau sarana lainnya terbatas atau dibatasi, maka dapat timbul persaingan dalam penggunaannya. Ini merupakan potensi terjadinya konflik antar unit/departemen dalam suatu organisasi.

2. Perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi.

Tiap-tiap unit dalam organisasi mempunyai spesialisasi dalam fungsi, tugas, dan bidangnya. Perbedaan ini sering mengarah pada konflik minat antar unit tersebut.

3. Interdependensi tugas.

Konflik terjadi karena adanya saling ketergantungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Kelompok yang satu tidak dapat bekerja karena menunggu hasil kerja dari kelompok lainnya.

4. Perbedaan nilai dan persepsi.

Suatu kelompok tertentu mempunyai persepsi yang negatif, karena merasa mendapat perlakuan yang tidak “adil”. Para manajer yang relatif muda memiliki presepsi bahwa mereka mendapat tugas-tugas yang cukup berat, rutin dan rumit, sedangkan para manajer senior men¬dapat tugas yang ringan dan sederhana.

5. Kekaburan yurisdiksional.

Konflik terjadi karena batas-batas aturan tidak jelas, yaitu adanya tanggung jawab yang tumpang tindih.

  1. Hambatan komunikasi.

Hambatan komunikasi, baik dalam perencanaan, pengawasan, koordinasi bahkan kepemimpinan dapat menimbulkan konflik antar unit/ departemen.

Akibat-akibat Konflik

Konflik dapat berakibat negatif maupun positif tergantung pada cara mengelola konflik tersebut.

Akibat negatif

• Menghambat komunikasi.

• Mengganggu kohesi (keeratan hubungan).

• Mengganggu kerjasama atau “team work”.

• Mengganggu proses PENGKADERAN.

• Menumbuhkan ketidakpuasan terhadap pekerjaan.

• Individu atau personil menga-lami tekanan (stress), mengganggu konsentrasi, menimbulkan kecemasan, mangkir, menarik diri, frustrasi, dan apatisme.

Akibat Positif dari konflik:

• Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis.

• Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.

• Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan perbaikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.

• Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.

• Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

Cara atau Taktik Mengatasi Konflik

Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.

Diatasi oleh pihak-pihak yang bersengketa:

Rujuk: Merupakan suatu usaha pendekatan dan hasrat untuk kerja-sama dan menjalani hubungan yang lebih baik, demi kepentingan bersama.

Persuasi: Usaha mengubah po-sisi pihak lain, dengan menunjukkan kerugian yang mungkin timbul, dengan bukti faktual serta dengan menunjukkan bahwa usul kita menguntungkan dan konsisten dengan norma dan standar keadilan yang berlaku.

Tawar-menawar: Suatu penyelesaian yang dapat diterima kedua pihak, dengan saling mempertukarkan konsesi yang dapat diterima. Dalam cara ini dapat digunakan komunikasi tidak langsung, tanpa mengemukakan janji secara eksplisit.

Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

Pemaksaan dan penekanan: Cara ini memaksa dan menekan pihak lain agar menyerah; akan lebih efektif bila salah satu pihak mempunyai wewenang formal atas pihak lain. Apabila tidak terdapat perbedaan wewenang, dapat dipergunakan ancaman atau bentuk-bentuk intimidasi lainnya. Cara ini sering kurang efektif karena salah satu pihak hams mengalah dan menyerah secara terpaksa.

Intervensi (campur tangan) pihak ketiga:

Apabila fihak yang bersengketa tidak bersedia berunding atau usaha kedua pihak menemui jalan buntu, maka pihak ketiga dapat dilibatkan dalam penyelesaian konflik.

Arbitrase (arbitration): Pihak ketiga mendengarkan keluhan kedua pihak dan berfungsi sebagai “hakim” yang mencari pemecahan mengikat. Cara ini mungkin tidak menguntungkan kedua pihak secara sama, tetapi dianggap lebih baik daripada terjadi muncul perilaku saling agresi atau tindakan destruktif.

Penengahan (mediation): Menggunakan mediator yang diundang untuk menengahi sengketa. Mediator dapat membantu mengumpulkan fakta, menjalin komunikasi yang terputus, menjernihkan dan memperjelas masalah serta mela-pangkan jalan untuk pemecahan masalah secara terpadu. Efektivitas penengahan tergantung juga pada bakat dan ciri perilaku mediator.

Konsultasi: Tujuannya untuk memperbaiki hubungan antar kedua pihak serta mengembangkan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan konflik. Konsultan tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan dan tidak berusaha untuk menengahi. la menggunakan berbagai teknik untuk meningkatkan persepsi dan kesadaran bahwa tingkah laku kedua pihak terganggu dan tidak berfungsi, sehingga menghambat proses penyelesaian masalah yang menjadi pokok sengketa.

 

Hal-hal yang Perlu Diperhati-kan Dalam Mengatasi Konflik:

1. Ciptakan sistem dan pelaksanaan komunikasi yang efektif.

2. Cegahlah konflik yang destruktif sebelum terjadi.

3. Tetapkan peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut hak karyawan.

4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.

5. Ciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.

6. Bentuklah team work dan kerja-sama yang baik antar bidang

7. Semua pihak hendaknya sadar bahwa semua bidang merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, jangan ada yang merasa paling hebat.

8. Bina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.

Analisa SWOT ; Suatu teknik untuk menganalisa suatu organisasi dalam memplajari, memulai, mengembangkan organisasi dengan pertimbangan faktor kekuatan, kelemahan, peluang, Ancaman.

Analisa ini juga dapat digunakan untuk menganalisa diri sendiri terhadap pola pikir dan tujuan hidup.

Mari kita coba ;(apakah selama ini kita pernah memikirkan/menganalisa/mengenali diri kita sendiri?)

teori kepemimpinan transformasional

Pembicaraan mengenai organisasi tidak akan terlepas dari konsepsi kepemimpinan.

Definisi kepemimpinan, menurut Terry (Kartono 1998 : 38) Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok. Menurut Ordway Teod dalam bukunya ”The Art Of Leadership” (Kartono 1998 : 38). Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi orang-orang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Kepemimpinan dapat terjadi dimana saja, asalkan seseorang menunjukkan kemampuannya mempengaruhi perilaku orang lain ke arah tercapainya suatu tujuan tertentu.
Young dalam Kartono (1998) mendefinisikan bahwa kepemimpinan adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu, berdasarkan akseptasi atau penerimaan oleh kelompoknya dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi khusus.

Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa esensi kepemimpinan adalah upaya seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar berperilaku sesuai dengan yang diinginkan olehnya. Dalam rangka mempengaruhi orang lain, seorang pemimpin mempunyai banyak pilihan gaya kepemimpinan yang akan digunakannya. Salah satu gaya kepemimpinan yang relatif populer adalah kepemimpinan transformasional.

Konsepsi Kepemimpinan Transformasional

Konsepsi kepemimpinan transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Bernard Bass (Stone et al, 2004) mengatakan sebagai berikut: “Transformational leaders transform the personal values of followers to support the vision and goals of the organization by fostering an environment where relationships can be formed and by establishing a climate of trust in which visions can be shared”. Selanjutnya, secara operasional Bernard Bass (Gill et al, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “Leadership and performance beyond expectations”. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill dkk, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “The process of influencing major changes in the attitudes and assumptions of organization members and building commitment for the organization’s mission or objectives”.

Dari beberapa pengertian tersebut kepemimpinan transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang berupaya mentransformasikan nilai-nilai yang dianut oleh bawahan untuk mendukung visi dan tujuan organisasi. Melalui transformasi nilai-nilai tersebut, diharapkan hubungan baik antar anggota organisasi dapat dibangun sehingga muncul iklim saling percaya diantara anggota organisasi.

Seorang pemimpin dikatakan bergaya transformasional apabila dapat mengubah situasi, mengubah apa yang biasa dilakukan, bicara tentang tujuan yang luhur, memiliki acuan nilai kebebasan, keadilan dan kesamaan. Pemimpin yang transformasional akan membuat bawahan melihat bahwa tujuan yang mau dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya. Sedangkan menurut Yukl kepemimpinan transformasional dapat dilihat dari tingginya komitmen, motivasi dan kepercayaan bawahan sehingga melihat tujuan organisasi yang ingin dicapai lebih dari sekedar kepentingan pribadinya.

Kepemimpinan transformasional secara khusus berhubungan dengan gagasan perbaikan. Bass menegaskan bahwa kepemimpinan transformasional akan tampak apabila seorang pemimpin itu mempunyai kemampuan untuk:
1) Menstimulasi semangat para kolega dan pengikutnya untuk melihat pekerjaan mereka dari beberapa perspektif baru.
2) Menurunkan visi dan misi kepada tim dan organisasinya.
3) Mengembangkan kolega dan pengikutnya pada tingkat kemampuan dan potensial yang lebih tinggi.
4) Memotivasi kolega dan pengikutnya untuk melihat pada kepentingannya masing-masing, sehingga dapat bermanfaat bagi kepentingan organisasinya.
Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Devanna dan Tichy karakteristik dari pemimpin transformasional dapat dilihat dari cara pemimpin mengidentifikasikan dirinya sebagai agen perubahan, mendorong keberanian dan pengambilan resiko, percaya pada orang-orang, sebagai pembelajar seumur hidup, memiliki kemampuan untuk mengatasi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian, juga seorang pemimpin yang visioner.

kepemimpinan transformasional (transformational leadership) istilah transformasional berinduk dari kata to transform, yang bermakna mentransformasilkan atau mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Seorang pemimpin transgformasional harus mampu mentransformasikan secara optimal sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang bermakna sesuai dengan target yang telah ditentukan. Sumber daya dimaksud bias berupa SDM, Fasilitas, dana, dan factor eksternal organisasi. Dilembaga sekolah SDM yang dimaksud dapat berupa pimpinan, staf, bawahan, tenaga ahli, guru, kepala sekolah, dan siswa.

Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional ini dikemukakan oleh Burn yang menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses di mana pimpinan dan para bawahannya untuk mencapai tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menentukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nlai moral seperti kemerdekaan, keadilan, dan bukan didasarkan atas emosi kemanusiaan, keserakahan,kecemburuan, atau kebencian.
Tingkat sejauhmana seorang pemimpin disebut transformasional terutama diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikut. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan, dan hormat kepada pememimpin tersebut, dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih dari pada yang awalnya diharapkan terhadap mereka.

Adapun, karakteristik kepemimpinan transformasional menurut Avolio dkk (Stone et al, 2004) adalah sebagai berikut:

(1) Idealized influence (or charismatic influence)

Idealized influence mempunyai makna bahwa seorang pemimpin transformasional harus kharisma yang mampu “menyihir” bawahan untuk bereaksi mengikuti pimppinan. Dalam bentuk konkrit, kharisma ini ditunjukan melalui perilaku pemahaman terhadap visi dan misi organisasi, mempunyai pendirian yang kukuh, komitmen dan konsisten terhadap setiap keputusan yang telah diambil, dan menghargai bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional menjadi role model yang dikagumi, dihargai, dan diikuti oleh bawahannya.

(2) Inspirational motivation

Inspirational motivation berarti karakter seorang pemimpin yang mampu menerapkan standar yang tinngi akan tetapi sekaligus mampu mendorong bawahan untuk mencapai standar tersebut. Karakter seperti ini mampu membangkitkan optimisme dan antusiasme yang tinggi dari pawa bawahan. Dengan kata lain, pemimpin transformasional senantiasa memberikan inspirasi dan memotivasi bawahannya.

(3) Intellectual stimulation

Intellectual stimulation karakter seorang pemimpin transformasional yang mampu mendorong bawahannya untuk menyelesaikan permasalahan dengan cermat dan rasional. Selain itu, karakter ini mendorong para bawahan untuk menemukan cara baru yang lbih efektif dalam menyelesaikan masalah. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu mendorong (menstimulasi) bawahan untuk selalu kreatif dan inovatif.

(4) Individualized consideration

Individualized consideration berarti karakter seorang pemimpin yang mampu memahami perbedaan individual para bawahannya. Dalam hal ini, pemimpin transformasional mau dan mampu untuk mendengar aspirasi, mendidik, dan melatih bawahan. Selain itu, seorang pemimpin transformasional mampu melihat potensi prestasi dan kebutuhan berkembang para bawahan serta memfasilitasinya. Dengan kata lain, pemimpin transformasional mampu memahami dan menghargai bawahan berdasarkan kebutuhan bawahan dan memperhatikan keinginan berprestas dan berkembang para bawahan.

k

1

 

 

Who am I

Seseorang dalam masa transisi SMA ke Perguruan Tinggi merupakan masa pendewasaan yang nantinya akan menentukan masa depannya. Segala sesuatu bentuk perilaku dan perbuatan baik maupun buruk, membangkitkan ataupun mematahkan semangat perjuangan yang pada akhirnya seseorang itu  menerima secara langsung feedbacknya. Saat itu pula proses pencarian jati diri berlangsung. Setiap orang memiliki tingkat proses berbeda dikarenakan banyak faktor didalamnya. Ketika proses itu berlangsung dengan perpaduan kebiasaan lama, adaptasi dan pola perilaku yang tidak wajar maka tetap sebuah harapan, sebuah cita-cita dan sebuah orientasi seseorang itu ada. Namun, mampukah seseorang itu mewujudkannya ??? Ketika seseorang itu menjadi burung gagak diantara burung merpati di suatu tempat tanpa adanya motivasi untuk memutihkan ataupun mentransformasikan dirinya seperti burung merpati itu, apa yang bisa dilakukan?? mampukan ia untuk menjadikan burung-burung merpati itu menyanginya? atau justru meninggalkannya? lalu bagaimana bisa ia mewujudkan semua orientasinya tanpa mereka? Ketika proses itu berlangsung maka seleksi alamlah yang kemudian menjadikannya seperti apa dan bagaimana seseorang itu menanggapinya akankah menjadi batu loncatan motivasinya atau justru menjadi boomerang yang nantinya akan mematikan diri sendiri sehingga seseorang itu mengalami perubahan yang seharusnya lebih baik namun karena kontrol dan manage yang berseberangan maka matilah ia karena dirinya sendiri.   kecewa